Tag: Allah

  • 9 Cara Mengatasi Putus Asa Untuk Berdoa Kepada Allah

    9 Cara Mengatasi Putus Asa Untuk Berdoa Kepada Allah

    Ketika kita ada masalah, atau sedang diuji apa yang akan diharapkan oleh seorang hamba adalah meminta pertolongan Allah. Antaranya dengan berdoa, menunaikan solat Taubat, bangun malam, berzikir dan sebagainya.

    Namun, hati semakin sempit apabila semakin lama berdoa, semakin rasa doa kita tidak didengar dan tidak dimakbulkan Allah SWT. Hati rasa semakin tawar hati dan menghampiri perasaan putus asa.

    Walau hakikatnya, sebagai umat Islam kita tidak boleh berputus asa, namun hati yang sempit dan tidak bertuhankan Allah ini mudah benar berasa putus asa. Firman Allah, “….dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum yg kafir.” Surah Yusuf, ayat 12

    Walau dihampar dengan 101 petikan ayat Al Quran dan hadis supaya jangan berputus asa, hati yang sempit itu tidak mampu menghadamnya yang membuat hati berasa tenang dan terus berharap untuk berdoa.
    Baca 5 cara ini. Moga ia menjadi pembangkit semangat untuk kita terus berharap dan meminta pertolongan Allah untuk hadir dalam masalah kita.

    1. Allah ya Sami’ (Yang Maha Mendengar) sentiasa dengar rintihan kita

    Sedarilah Allah tidak pekak. Allah ya Sami’ adalah salah satu daripada 99 nama-nama Allah. Andai kita ada sahabat yang merupakan pendengar yang baik, Allah adalah pendengar yang lebih baik daripada mereka.

    Sentiasa sedar, Allah sentiasa mendengar rintihan kita walaupun kita hanya berbisik di dalam hati. Untuk memulakan rintihan, mulakanlah dengan menyeru ya Allah ya Sami’. Kemudian mulakan rintihan.

    2. Allah ya Basir (Yang Maha Melihat) memandang usaha untuk dekat dengan Dia

    Bukan Allah tidak nampak apa yang sedang kita lalui – menangis teresak-esak, merayu, merintih, hanya untuk mendapatkan pertolongan-Nya. Allah nampak itu semua.

    Kuasa Allah, andai Dia menyatakan Kun Faya Kun, hilang semua masalah kita. Cuma adakalanya, Allah menangguhkan masalah itu selesai supaya kita dekat dengan Dia.

    3. Allah ya Qobidh (Yang Maha Menyempitkan) yang sempitkan kita

    Sesungguhnya Allah ya Qobidh yang menyempitkan kita – yang membuat kita rasa sangat terhimpit dengan masalah. Dia juga ya Basit (Yang Maha Melapangkan) yang boleh melapangkan kita.

    Dengan mengenali-Nya melalui 99 nama-nama Allah, insya-Allah kita akan dapat sedari sebuah kod kehidupan yang membuat kita akan sentiasa bersangka baik dengan Allah.

    4. Bersabar dan jangan tergesa-gesa

    Kata Prof. Madya Dr. Wan Maseri Wan Mohd. iaitu individu yang menyebarkan Teknik Asmaul Husna, “Doa adalah penyerahan bukan tuntutan”. Doa adalah perintah Allah terhadap hamba-Nya.

    Walaupun begitu, Allah tidak wajib memakbulkan doa kita. Berdoa adalah salah satu cara seorang hamba melaksanakan perintah-Nya. “Doa kalian akan dikabulkan selama tidak tergesa-gesa. Dia mengatakan, ‘Saya telah lama berdoa, tetapi tidak kunjung dikabulkan.” Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim

    5. Jadikan sabar dan solat sebagai penolong

    “Hai orang-orang yang beriman, jadikan sabar dan solat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” Surah Al Baqarah, ayat 153

    Ini mungkin nasihat cliche, tetapi itulah antara formulanya supaya kita sentiasa rasa bertuhankan Allah. Kenapa nama Allah ya Sabur di akhir sekali dalam susunan 99 Nama-nama Allah?

    Kerana Allah mahu kita bersabar dengan tiap aturan-Nya daripada sifatnya yang adakalanya menjatuhkan kita, memudaratkan kita. Baca dan fahami maksud tiap nama-nama Allah, anda akan faham maksud saya.

    6. Sibukkan diri

    Elakkan bersendirian. Sibukkan diri dengan menyertai apa-apa program kebajikan atau majlis ilmu agama, supaya kita tiada masa untuk fikir tentang masalah.
    Adakalanya apabila kita bersendirian, kita akan lebih kerap fikir tentang masalah sehingga buat kita selalu tertekan. Saya pernah dapat Private Message (PM) di Facebook yang dia berputus asa untuk berdoa kepada Allah.

    Dia tertekan kerana terlalu memikirkan masalahnya malah, membuat dia menghidap penyakit mental dan tekanan yang tinggi. Saya berikan solusi dengan zikir Penyucian Hati Dengan #TeknikAsmaulHusna.

    Alhamdulillah beberapa minggu selepas itu, dia mengatakan dia sudah semakin pulih daripada tekanannya.

    7. Teruskan mendekatkan diri dengan Allah

    Jangan ambil jalan pesong atau jalan yang Allah tidak suka. Ketika kita diuji, hati yang sempit kebiasaannya akan nampak yang negatif sahaja tentang Allah. Kita jadi seorang pesimis – selalu bersangka buruk.

    Akhirnya membuat kita tertekan dengan diri sendiri. Terus dekatkan diri dengan Allah seperti terus menunaikan solat 5 waktu, baca Al Quran.
    Walau sukar, berusaha untuk buat walau sedikit. Asalkan jangan tinggal semua. Paling malas, pasang ayat Al Quran, biarkan telinga kita dengar perkara-perkara yang baik untuk makanan rohani.

    8. Ketahui 3 cara Allah makbulkan doa kita

    i. Dimakbulkan serta merta
    Kita dapat sesuatu secara terus pada ketika kita berdoa untuknya.

    ii. Allah menunda doa kita sehingga sampai waktu yang sesuai
    Bukan Allah tidak memakbulkan doa kita cuma Allah tangguhkan ke suatu masa yang sesuai dalam pengetahuan-Nya.

    iii. Menundanya di akhirat
    Kita berdoa di dunia tetapi Allah beri ketika di akhirat. Sesungguhnya Allah lebih tahu masa yang tepat untuk memakbulkan doa kita lebih daripada kita mengetahuinya.

    9. Cari bahan ilmiah untuk mengatasi perasaan putus asa

    Boleh guna pak cik Google untuk mencari bahan ilmiah. Antara yang saya sarankan,
    i. Apa Yang Telah Diberi vs. Dengan Apa Yang Dipinta
    ii. Apabila Digerakkan Hati Untuk Berdoa
    iii. Kenalilah Tuhan Yang Mengujimu
    v. Video Jangan Berputus Asa: Kita Masih Punya Allah

    Secara tidak langsung dengan membaca dan menonton bahan ilmiah akan membuat kita bermuhasabah untuk tidak berputus asa sebaliknya, teruskan berdoa dan berharap hanya kepada Allah SWT.

    Insya-Allah apabila mempraktikkan 9 perkara ini ketika kita hampir berputus asa untuk terus berdoa untuk memohon pertolongan Allah, kita akan dapat semangat baru yang membina harap berterusan supaya sentiasa bersangka baik dengan Allah dan berdoa kepada-Nya.

    Source: binusrah

  • Don’t Wait Until You Retire To Do Good Deeds And Remember Allah

    Don’t Wait Until You Retire To Do Good Deeds And Remember Allah

    I was listening to my girlfriend recite Surah Ya Seen — the 36th chapter of the Holy Qur’an whose recitation is meant to help ease the transition of the human soul from this realm to the next — to a beloved auntie of ours in the hospital tonight when I heard Surah Fatiha (the first chapter of the Holy Qur’an) being recited in an elevated voice outside of the hospital room.

    “Who’s reciting Qur’an so loudly…and in public too? And why?!” I wondered in a panic before rushing out the door to investigate.

    The nurses were sitting at their station with amused looks on their faces. Surah Ya Seen was still emanating from the room behind me while Surah Fatiha was echoing out from the room next door. The thought crossed my mind, “Oh good God! How obnoxious! We Muslims are just taking over this place!”

    When I peeked into the room next door, I saw that it was actually my son Shaan who was reciting the Arabic verses as he led his “uncle” (an ILM Tree dad who had also been visiting our mutual auntie that evening) and a stranger (a patient wearing a hospital gown and hooked up to an IV) in prayer.

    When my girlfriend later joined me in the hallway with the Holy Qur’an still in her hands, I told her about what was going on next door. Suddenly a tall white lady was standing next to us with a sad smile on her face.

    “That’s my husband in there with your men,” she told me. “I’m not Muslim, but he is, and he was very moved when he realized they were Muslim and he asked them to say a prayer for him, so I guess that’s what they’re doing. Let me tell you, nothing has been so healing for him in this whole hospital as whatever is going on right now in that room.”

    She seemed like she could use some cheering up, and we told her that we wished her husband well, a complete healing from whatever was ailing him (we didn’t ask for any details and she didn’t offer any). I asked her where she lived, and when she named her town, my girlfriend told her, “We’re neighbors! I live in Lafayette!”

     

    We talked some more and realized that one of our ILM Tree graduates was actually best friends with this lady’s youngest daughter. We were flabbergasted by all of the random connections and how small the world suddenly seemed. “It’s so interesting that God has chosen to cross our paths here in this hospital of all places,” I told her, and she agreed.

    When I interrupted to introduce myself to the man (and for my girlfriend to re-introduce herself to him), he looked at us with tears in his eyes and had a hard time talking without breaking into sobs.

    Later, Shaan told me what had happened while my girlfriend and I had been sitting by my auntie’s bedside. He told me that he and the ILM Tree dad had been standing out in the hallway with misbahas in their hands when this man came walking by, rolling his IV on a stand and with his wife by his side. Shaan noticed that he kept staring curiously at the prayer beads in their hands. Finally, the man asked them (with the wife embarrassedly telling him to leave the two men alone), “What is that in your hand?”

    The ILM Tree dad said, “They’re prayer beads.”

    He responded gently, “Many religions have prayer beads.”

    Our friend said, “We’re Muslim.”

    The man started crying and hugging and kissing Shaan and the ILM Tree dad while his wife went “ohhhh…awww…oh!” in the background. Shaan said she was obviously touched and surprised by how moved her husband was. Finally, the man broke away and asked them through his tears, “Can I pray with you guys? Can you say Fatiha for me?”

    Shaan said, “Well, it’s Isha (last prayer of the night) time. We can pray Isha together.”

    The man said, “Yes, I would like to pray Isha with you! Let’s do that! Let’s pray Isha!”

    When he lined up for prayer (by sitting in a chair), Shaan overheard him murmuring in a state of wonder to himself again, “I haven’t prayed Isha in awhile!”

    Shaan led him in prayer, and afterwards the man got choked up again and thanked him for reciting a surah in the prayer that was the same title as his name (Shaan had no idea that he had done that at the time). Then the man said, “I’ll tell you my story. I was living the American Dream — it was all work work work go go go. I used to tell myself that one day I would feed the orphan, one day I would help the poor, one day I would do all the things that the Qur’an tells me to do. I was about to retire and finally start doing all those things that I had thought I would do one day…then two days ago, I found out I have a brain tumor…and I realized that I should have been doing those things all along.”

    It was soon after this point that my girlfriend and I entered the room to greet him. The man could not stop crying as he told us what meeting us had meant to him. Before leaving the hospital, we prayed for him and exchanged numbers and reassured him that we would be in touch, insha’Allah.

    On the drive home, Shaan said, “You know, Mama, it’s interesting how Allah closes one door, but then He always opens another.”

    “What do you mean?” I asked.

    “Well, I was thinking about how one door is closing now that Auntie So-and-So is passing away. And I was wondering who we would get to go visit now. But then Allah sent us this man. We can start visiting him.”

    He continued, “And, you know, I was starting to become a little cynical regarding the ummah (global community of Muslims) after some of my recent interactions with some of them. But tonight cured me of all that. I love the ummah. Someone can be away from the religion for their whole lives, but in the end, everyone always comes back to Allah.”

    When I got home and tried to tell Zeeshan about our experiences that evening, I became overwhelmed and started crying. “Do you know what we witnessed today, Zeeshan?”

    “What?”

    “We witnessed a man calling on Allah and Allah saying, ‘Here I am.’”

    Zeeshan nodded, then sighed, “And the sad part is that that actually happens all around us all the time…most of us are just too busy to notice.”

     

    Source: Hina Khan-Mukhtar

  • Noor Deros: Apakah Islam Itu Setakat Nila-Nilai Yang Baik?

    Noor Deros: Apakah Islam Itu Setakat Nila-Nilai Yang Baik?

    Nabi datang bawa lebih dari nilai (values) dan akhlaq, Nabi datang bawa nilai terbaik antara yang baik dan yang baik antara yang nampak macam baik, Nabi datang bawa penyempurna akhlaq (لأتمم مكارم الأخلاق) bukan hanya akhlaq, Nabi datang bawa Syariah sebagai satu-satunya bentuk (form) yang mampu membawa, memelihara dan menyebarkan isi (substance) yang diajarkan wahyu dengan sempurna, ia bukan setakat undang-undang yanghanya tunduk pada konteks, sebaliknya ia (الثوابت) adalah undang-undang merentas zaman dan budaya yang mampu dan yang sepatutnya memelihara dan membaiki konteks.

    Contoh : keadilan kewangan hanya boleh berlaku bila hukum-hakam riba dijaga betul-betul, bercakap tentang keadilan kewangan sambil mengamalkan riba dan tidak menganggapnya sebagai masalah hanyalah satu usaha yang tidak jujur dan tidak akan berjaya, bahkan menambah kepada masalah yang sedia ada.

    Seorang muslim tidak sepatutnya mengecilkan Islam hanya pada takatan nilai dan menganggap bahawa dia boleh mencipta bentuk (form) baru (atau meminjamnya dari sistem bukan Islam) yang akan mampu menampung dan menyalurkan nilai-nilai yang dibawa wahyu dengan kualiti yang sama atau lebih baik. Dia lebih salah apabila terlalu terbuka belajar dari “sesiapa” sahaja dan mengambil bentuk dari sesiapa saja walaupun perkara yang dipelajari itu termasuk bab pegangan dan kepercayaan hidup. Hikmah yang dimaksudkan dalam hadith الحكمة ضالة المؤمن harus difahami betul-betul, merasakan dan menganggap sesuatu itu berhikmah tidak menjadikannya benar-benar berhikmah. Hikmah itu mesti Haq, jika tidak Haq, tiadalah hikmah itu.

    Manusia berakal sihat sudah sedia maklum akan nilai-nilai dan akhlaq asas, manusia tidak beragama juga tahu, tapi dia tidak akan mampu menghasilkan satu sistem menyeluruh yang dapat memelihara, menyebarkan dan mengukuhkan nilai-nilai dan akhlaq yang terbaik itu.

    Atas sebab ini diutuskan para Nabi, mereka bawa isi bersama dengan bentuk yang akan memelihara isi itu. Jika kita mengatakan bahawa agama ini hanyalah nilai-nilai semata-mata maka kita telah secara langsung memberikan lesen pada manusia untuk tidak mengambil “agama” dari para nabi; cukuplah menggunakan akal sendiri, kerana akak fitri kita semua sedia maklum bahawa rahmah itu baik, membantu satu sama lain itu baik, kebersihan itu baik, merendah diri itu baik etc.

    Memperlekehkan bentuk agama dan membenturkannya dengan nilai agama adalah langkah awal sebelum pengenyahan bentuk agama secara total. Bila ini berlaku maka agama setakat menjadi salah satu daripada falsafah-falsafah hidup yang terapung-apung dan terbuka kepada kefahaman dan kesalahfahaman sesiapa sahaja.

    Nilai tanpa bentuk samalah seperti roh tanpa jasad, ia tidak boleh berfungsi didalam dimensi yang berbentuk ini (dunia).

    Bentuk yang rosak akan memberi kesan pada nilai, samalah seperti badan yang diisi dengan makanan haram akan mencederakan rohani kita.

     

    Source: Noor Deros

  • Jaafar Sariban@Sarong – My Will To All Of You Is To Bring Yourself Closer To Islam

    Jaafar Sariban@Sarong – My Will To All Of You Is To Bring Yourself Closer To Islam

    Here is the will by Jaffar. I feel heavy having my name in it but I do not wish to cut off anything. Allah be witness I have conveyed.

    sarongs-will

    To all of Sarong’s friends who wish to answer the call of his will, I would like to share that we have decided to start a session on learning how to recite the Quran and Allah has blessed us with a venue to hold our session, without any charges. The session will be conducted by myself inshaallah, at no charge.

    We take this opportunity calling all our brothers and sisters, especially you beloved friends of Sarong, to come and take this gift that Allah has bestowed us with, and at the same time be the reason for Sarong to get rewarded for initiating this via his will.

    Please come as you are. This is a family thingy, not a typical formal class. Do bring along those whom you love. This session is open to all, bros and sistas.

    Session starts this Friday 16 September 2016, 8.30pm at No. 62A, Arab Street.

    No registration required. But please do be punctual.

    Let’s make time for The One who give us time.

    Wassalam,
    Your brother and servant
    Brother Aydarus

     

    Source: Aydarus Alhabshi

  • Pokémon GO Bina Track Bentuk Tulisan ‘Allah’

    Pokémon GO Bina Track Bentuk Tulisan ‘Allah’

    Latest news!! Pokémon GO, dorang bina track laluan bentuk nama Allah.

    So player akan pijak2 nama Allah!! Astafillah. No wonder this game is so bloody hot!!

    Not only that, erti nama Pokemon ialah AKU YAHUDI!!

    Pls do share around.

     

    Source: Suzie Sohana Safari