Tag: Rupiah

  • Rancangan Buang 3 Angka – ‘000’ – Daripada Mata Wang Rupiah Indonesia

    Rancangan Buang 3 Angka – ‘000’ – Daripada Mata Wang Rupiah Indonesia

    Anda bingung setiap kali perlu membuat bayaran dengan wang rupiah ketika melancong ke Indonesia dek ‘terlalu banyak sifar’?

    Misalnya 10,000,000 rupiah, sebenarnya bersamaan dengan S$1,080 sahaja.

    Sebagai huraiannya, sistem mata wang Indonesia mungkin akan dijadikan lebih ringkas pada masa depan.

    Gabenor bank pusat Indonesia hari ini (19 Dis) menyatakan bank itu sedang menimbangkan untuk membuang tiga sifar daripada wang kertas rupiah untuk meringkaskan sistem mata wang negara itu. Bermakna, 1,000 rupiah akan menjadi 1 sahaja rupiah!

    Gabenor Bank Indonesia (BI), Agus Martowardojo berkata beliau sudah meminta Presiden Joko Widodo menghidupkan semula satu rancangan yang sebelum ini diketepikan. Iaitu untuk mendenominasi semula atau menyusun semula mata wang rupiah agar ia “lebih berkesan dan lebih ringkas.”

    Satu draf undang-undang yang menyokong langkah itu diserahkan ke parlimen pada 2013 di bawah pemerintah sebelum ini. Namun, draf tersebut diketepikan akibat ketidakstabilan dalam pasaran kewangan Indonesia ketika itu.

    BILA DIJANGKA AKAN DILAKSANAKAN?

    Jika parlimen meluluskan rang undang-undang tersebut tahun depan, bank pusat Indonesia akan memerlukan lagi dua tahun untuk menyiapkan wang-wang kertas yang baru.

    Ia kemudian memerlukan tempoh peralihan lagi tujuh tahun sebelum ia dapat dengan sepenuhnya membuang tiga sifar daripada mata wang itu, katanya.

    “Harga barangan dan perkhidmatan juga perlu diringkaskan. Oleh kerana tempoh peralihan itu, di mana orang ramai boleh menggunakan kedua-dua denominasi lama dan baru untuk wang rupiah, kami pasti ia tidak menjejas inflasi,” kata Encik Martowardojo di pelancaran siri reka-reka bentuk baru bagi wang rupiah.

    Denominasi rupiah yang terbesar sekarang ini ialah 100,000 dan yang paling kecil adalah 1,000. Reka-reka bentuk baru bank pusat bagi wang kertas akan menggunakan sistem denominasi yang sekarang ini dan akan memaparkan tokoh-tokoh sejarah Indonesia.

    Menteri Kewangan Indonesia, Sri Mulyani Indrawati berkata sifar-sifar pada mata wang rupiah mencerminkan sejarah inflasi mata wang itu, dan beliau akan membincangkan saranan itu dengan parlimen, dengan rancangan untuk memperkenalkannya tahun depan. Namun katanya, saranan itu tidak disertakan dalam senarai keutamaan perundangan sekarang ini untuk 2017.

    “Langkah denominasi semula akan memperkukuhkan jaminan dalam mata wang Indonesia, namun ia tidak akan menjejas apa-apa secara nominal,” katanya kepada para wartawan di satu acara berasingan hari ini.

    Source: Berita MediaCorp

  • Bintan Resorts Stop Accepting Singapore Dollars, All Transactions in Rupiah

    Bintan Resorts Stop Accepting Singapore Dollars, All Transactions in Rupiah

    img_1846

    SINGAPORE: Several hotels and resorts in the Indonesian island of Bintan have stopped accepting Singapore dollars since the start of this month, citing a government policy that requires all transactions to be made in the Indonesian rupiah.

    Five hotel operators, including Banyan Tree Bintan and Nirwana Gardens, told TODAY that they had been told not to accept foreign currencies. Prior to this, Singapore and American dollars were allowed to be used on the island, the operators said.

    The Indonesian Embassy in Singapore, however, said the rupiah-only policy is not a new one. An embassy official from its information, social and cultural department referred TODAY to a Bill passed by the Indonesian Parliament in May 2011, which requires all financial transactions within Indonesia to be made in rupiah.

    An online report posted on legal firm Allen & Overy’s website said the currency law took effect on June 28 that same year, but does not apply to “transactions related to the state budget, grants given by or to a foreign state, international commercial transactions, bank deposits denominated in foreign currencies and international finance transactions”.

    While it is not clear why the law is being enforced only now, a report by the Antara news agency in June this year said the Bank of Indonesia is encouraging people to use the rupiah in their transactions ahead of the establishment of the ASEAN Economic Community next year.

    “Bank of Indonesia has asked all entrepreneurs and the Indonesian community to use the rupiah currency in every transaction across the nation, as the bank feared that other countries will be one step ahead of Indonesia,” the central bank’s Deputy Governor Ronald Waas had been quoted as saying.

    Some travel agencies in Singapore said they had not been told about the rupiah-only policy. But an Asia Travel spokesperson said the company had been told by local operators in Bintan that travellers must use only the rupiah because of a “new government policy”, although it did not receive any official notification. Several travellers described the currency restrictions as inconvenient, but added that they will not be deterred from visiting Bintan.

    Communications specialist Chua Ee Ghim, 27, is concerned about carrying too much cash as the rupiah comes in far smaller denominations than Singapore dollars. “I have to be very careful in keeping my notes and ensure that shopkeepers give me the correct change,” he said.

    The policy appears to have not taken effect in Batam yet. Batam is another Indonesian island popular with Singaporeans seeking short getaways.

    Three resorts there told TODAY that they still accept payment in Singapore dollars. Batam was in the news last month after Indonesian immigration officials at the Batam Centre began sending ferry passengers back to Singapore for talking too loudly.

    Source: http://www.channelnewsasia.com/news/singapore/hotels-in-bintan-no/1367636.html

  • Pengedaran Dollar Singapura Palsu di Indonesia

    SGMoney

    ANADO — Tim Khusus (Timsus) Polda Sulut menggagalkan peredaran uang palsu 6.483.465 dollar Singapura. Bila dirupiahkan, uang palsu ini setara lebih dari Rp 60 miliar.

    Ketika dikonfirmasi, Kepala Polresta Manado Kombes Sunarto membenarkan adanya penyerahan kasus ini dari Polda Sulut. “Kasusnya dilimpahkan oleh Krimsus Polda Sulut,” ujar Sunarto, Rabu (26/2/2014). Menurut dia, saat ini polisi masih melakukan pengembangan kasus tersebut.

    Kombes Sunarto mengatakan, kepolisian menduga bahwa pelaku merupakan sindikat jaringan internasional. “Kami belum tahu pasti, apakah yang mengedarkan uang palsu ini adalah jaringan internasional,” kata Sunarto.

    Informasi yang didapat Kompas.com, penangkapan bermula ketika Timsus Polda Sulut mendapat kabar bahwa ada peredaran uang palsu berbentuk dollar Singapura, dengan pecahan 10.000 dollar Singapura.

    Setelah pengembangan dilakukan, polisi menangkap lelaki berinisial YT, di salah satu hotel di kawasan Sario, awal Februari 2014. YT mengaku bahwa uang itu didapat dari seorang perempuan yang identitasnya dirahasiakan polisi.

    Oleh YT, uang palsu tersebut disimpan di safety deposit box salah satu bank di Kota Manado. Perempuan yang disebutkan YT itu pun akhirnya ditangkap di Sukabumi, Jawa Barat. Pengujian keaslian uang dilakukan di Laboratorium Forensik Mabes Polri.

    Informasi yang diperoleh Kompas.com, uang tersebut diduga kuat palsu karena banyak perbedaan ditemukan jika dibandingkan dengan uang asli. Bahkan, ditemukan nomor seri yang sama di dua lembar uang berbeda.

    Sumber: Kompas.com