Tag: tudung

  • Ustazah: Allah Gave Permission For Girls To Hug K-Pop Idols

    Ustazah: Allah Gave Permission For Girls To Hug K-Pop Idols

    KUALA LUMPUR, Jan 15 — The three Muslims girls who have been vilified for hugging K-pop stars during a concert last week actually had “Allah’s permission”, a Muslim religious teacher claimed.

    The young woman, who did not provide her name and was identified by some YouTube accounts as an “ustazah” or religious teacher, said that the three girls would have been stopped by God from going onstage if there was no divine permission.

    “They were onstage with Allah’s permission because in this life, Allah gives us one thing—that is choice. Allah gives us the choice. Allah gave us the choice whether we want to go or not, do something consciously or not,” the tudung-clad woman explained in a YouTube video that is 5:42 minutes long.

    “And they chose to go and Allah permitted them to go; they chose to stand up there and Allah permitted them to be onstage,” she added in the video carried by YouTube users like Pen Merah Dot Com and Siakap Keli.

    In the same video that surfaced yesterday, she also trained her guns on “keyboard warriors”, calling them out for their alleged holier-than-thou attitude and abusive words.

    “But behind Allah’s permission for this to become viral, Allah actually wants to test us who are so good in becoming keyboard warriors to abuse, to speak ill; as if you are all so good since you were born until now,” she said.

    She also pointed out that the three Muslim girls could end up being far better than their critics by learning from this incident, also saying that the girls and their families and friends were already suffering shame from this controversy.

    She said love should be shown to the three girls instead, and sounded exasperated when noting how Muslims and Malays have been squabbling online over this incident.

    The controversy erupted after a video of the meet-the-fans session here for K-pop band B1A4 on Saturday was uploaded online, prompting thousands of angry Facebook users to share and comment on a three-minute viral video of the artists hugging and embracing the tudung-clad Malay girls on stage.

    The clip, which was posted on the Sukan Star TV Facebook page, was suggestively titled “Perempuan melayu dicabul atas pentas oleh mat kpop semalam” (Malay girls molested on stage by K-Pop artists last night).

    But B1A4’s management firm WM Entertainment has since then denied claims that its artistes “molested” the three Malay girls, saying that they were mindful of local Muslim sensitivities and said the consent of the three had been obtained.

    The mini-concert’s organisers TGM Events have also denied the molest claim, pointing out that the event company was run mostly by women and were against “molestation or sexual harassment.”

    The organiser also said the fans were told beforehand not to “touch” or “get too close” to the B1A4 members, adding that the selected fans had given their full consent to appear on stage.

    On Monday, JAWI said it is investigating the girls for public indecency and outraging Muslims, and would probe the matter under Section 29 of Shariah Criminal Offences (Federal Territories) Act 1997.

    Section 29 of the Act allows for a fine of up to RM1,000 and imprisonment of no more than six months upon conviction.

    Yesterday, Utusan Malaysia reported that JAWI said it will apply for an arrest warrant if the Malay girls refuse to turn themselves in for investigation within a week, but the department’s official told Malay Mail Online that they may be spared prosecution and sent for rehabilitation instead if they are underage.

     

    Source: https://sg.news.yahoo.com

  • Three Tudung Clad Malay Girls Wanted By JAWI For Inappropriate Behaviour Involving K-Pop Band B1A4

    Three Tudung Clad Malay Girls Wanted By JAWI For Inappropriate Behaviour Involving K-Pop Band B1A4

    Local religious authorities have asked for the three tudung-clad Malay girls, who were seen behaving in an improper way on stage with a K-Pop band, to come forward over the controversy, The Star Online reported today.

    The three had been seen in a YouTube clip getting hugs and kisses from members of the K-Pop band B1A4 at a mini-concert held at the Live Centre in Jalan Sultan Ismail, Kuala Lumpur on Saturday night.

    Federal Territory Islamic Religious Department (Jawi) said today that the three K-Pop fans will be able to assist in its investigations.

    The Star Online quoted Jawi director Paimuzi Yahya as saying that the actions of the women and band members went overboard, as it was against Islamic teachings and offended the sensitivities of the Muslim community.

    “The Jawi enforcement division has opened an investigation under Section 29 of the Syariah Criminal Offences ( Federal Territories ) Act 1977 (Act 599 Indecent Acts in Public Places.)

    “Those who are involved are asked to come forward to help in the investigation,” he said in a statement today.

    According to The Star Online, Paimuzi explained that the particular Act can be enforced against people who behave indecently and in contravention of Islamic law in a public place, and is punishable with fines of not more than RM1,000 or six months jail or both.

    The three-minute video clip of the B1A4 stars hugging and kissing the female fans on stage went viral on social media yesterday, drawing much criticism from viewers.

    The Star Online also reported that TGM Events, the organiser of the mini-concert have since expressed their regret over the incident and declared that the three Malay girls had willingly stepped onto the stage.

     

    Source: www.themalaysianinsider.com

  • Perempuan Berhijab Melampau

    Perempuan Berhijab Melampau

    Kurang ajar betul minah tudung nie, bergambar dalam keadaan yang memalukan di tempat awam. Pakai saja tudung tetapi perangai macam apa!! Kalau tidak salah gambar ini dirakamkan di sebuah restoran makanan segera.

    Kalaulah tempat terbuka sudah macam ini, apa lagi kalau tempat yang tertutup. Kenapalah perempuan sanggup buat apa saja demi teman lelakinya? Bukan tunang…jauh sekali suami. Menyesal kemudian hari tiada gunanya. Fikir-fikirkanlah.

     

    Source: http://nblo.gs

  • Hukum Hijab Bagi Wanita Islam

    Hukum Hijab Bagi Wanita Islam

    Hijab, atau bertudung, merupakan satu amalan yang diterima sebagai sesuatu yang fardhu oleh kebanyakkan kita di Malaysia dan negara-negara Muslim lain.

    Anjuran untuk berhijab ini disokong oleh dalil-dalil daripada Al-Quran dan Hadith yang menurut saya tidak perlu dihuraikan dengan panjang lebar lagi.

    Namun saya tertarik untuk membawa perhatian kita kepada perbahasan alternatif seputar isu Hijab yang jarang sekali diketengahkan dalam wacana keislaman di Malaysia.

    Hijab dalam Al-Quran

    Anjuran untuk memakai Hijab dapat kita temui di dalam Surah Al-Nuur ayat 31 yang menyatakan:

    “Katakanlah kepada wanita-wanita mukminah hendaklah mereka menahan pandangan mereka dan memelihara kemaluan mereka dan janganlah mereka memperlihatkan perhiasan tubuh mereka kecuali yang zahir daripadanya; dan hendaklah mereka menutup belahan leher bajunya dengan tudung kepala mereka; dan janganlah mereka memperlihatkan perhiasan tubuh mereka melainkan kepada suami mereka, atau bapa mereka atau bapa mertua mereka atau anak-anak mereka, atau anak-anak tiri mereka, atau saudara-saudara mereka, atau anak bagi saudara-saudara mereka yang lelaki, atau anak bagi saudara-saudara mereka yang perempuan, atau perempuan-perempuan Islam, atau kepada lelaki yang tidak berkeinginan kepada perempuan, atau kanak-kanak yang belum mengerti lagi tentang aurat perempuan; dan janganlah mereka menghentakkan kaki untuk diketahui orang akan apa yang tersembunyi dari perhiasan mereka; dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, supaya kamu berjaya”

    Dan di dalam Surah Al-Ahzab ayat 59, Allah memerintahkan:

    “Wahai Nabi, suruhlah isteri-isterimu dan anak-anak perempuanmu serta perempuan-perempuan yang beriman, supaya melabuhkan pakaiannya bagi menutup seluruh tubuhnya (semasa mereka keluar); cara yang demikian lebih sesuai untuk mereka dikenal maka dengan itu mereka tidak diganggu. Dan (ingatlah) Allah adalah Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani.”

    Inilah dasar pijakan hukum yang menjadi asas kepada perintah agar perempuan-perempuan Muslimah untuk menutup rambutnya dan melabuhkan tudungnya sehingga menutupi dada.

    Aurat berdasarkan fiqh klasik

    Aurat ditakrifkan sebagai kekurangan atau sesuatu yang memalukan dan mengaibkan dari anggota tubuh badan sekiranya di dedahkan untuk tatapan umum.

    Menurut Imam Al-Nawawi di dalam Al-Majmu’ Syarh Al-Muhazzab, aurat diertikan sebagai anggota tubuh manusia yang menurut pandangan umum buruk atau mengaibkan sekiranya diperlihatkan kepada umum dan sekiranya dibiarkan terbuka akan menimbulkan fitnah.

    Fitnah yang dimaksudkan oleh Al-Nawawi adalah fitnah seksual, oleh yang demikian majoriti ulama’ berpendapat bahawa aurat wajib ditutup.

    Sekiranya kita meneliti perbahasan fiqh tentang aurat, terutamanya aurat perempuan. Kita akan menemui perbezaan di antara batas aurat perempuan merdeka (Al-Hurrah) dan batas aurat hamba (Al-Amah).

    Di dalam Mazhab Syafie, batas aurat perempuan merdeka adalah keseluruhan tubuh mereka kecuali muka dan tapak tangan.

    Bahkan Al-Muzani menambah bahawa tapak kaki perempuan juga bukan termasuk dalam batas aurat yang harus ditutup.

    Begitu juga pendapat tentang batas aurat perempuan merdeka menurut Mazhab Maliki, walaubagaimanapun menurut Muhammad Bin Abdullah Al-Maghribi sekiranya perempuan merdeka tersebut merasa bimbang terhadap fitnah, maka ia harus menutup muka dan tapak tangannya.

    Manakala menurut Ibnu Qudamah batas aurat perempuan menurut Mazhab Hanbali adalah keseluruhan tubuh badannya bahkan menurut Abu Bakr Al-Harits, keseluruhan tubuh perempuan adalah aurat termasuklah kukunya.

    Batas aurat perempuan merdeka dan perempuan hamba

    Manakala batasan aurat bagi perempuan hamba menurut Imam Al Nawawi boleh dibahagikan kepada tiga pendapat.

    Pertama, majoriti ulama’ Syafieyah menyatakan bahawa batas aurat bagi perempuan hamba adalah sama seperti batasan aurat lelaki merdeka, iaitu di antara pusat sehingga lutut.

    Kedua, menurut Al-Thabari batas aurat perempuan hamba sama seperti batas aurat perempuan merdeka kecuali kepala tidak wajib ditutupi.

    Ketiga, aurat perempuan hamba adalah sama dengan perempuan merdeka kecuali bahagian tubuh badan yang diperlukan untuk membuat kerja seperti kepala, leher dan lengan.

    Al-Marghinani dalam kitabnya Al-Hidayah Syarh Al-Bidayah menyatakan bahawa batas aurat lelaki adalah sama dengan batas aurat perempuan hamba, perut dan punggung perempuan hamba dan lelaki adalah aurat.

    Selain dari itu seluruh tubuhnya adalah bukan aurat. Kesimpulan ini dibuat berdasarkan kisah Umar Al Khatab yang telah memerintahkan agar Daffar (seorang hamba perempuan) untuk membuka tudung kepalanya. Umar bertanya kepada Daffar – “Adakah engkau ingin menyerupai perempuan merdeka?”

    Menurut Al-Marghinani lagi, aurat perempuan hamba tidak sama dengan perempuan merdeka kerana pada kebiasaannya hamba perempuan ini harus keluar dari rumah untuk melunaskan pekerjaan sebagaimana yang diarahkan oleh tuannya.

    Muhammad Ali Al-Shobuni di dalam Rawa’i Al-Bayan Tafsir Ayat Al Ahkam Min Al Quran senada dengan Al-Marghinani dalam hal aurat perempuan hamba.

    Menurut beliau perempuan hamba akan terbeban dengan urusan-urusan pekerjaan sehingga terpaksa keluar dari rumah, pergi ke pasar dan memenuhi segala keperluan tuannya. Sekiranya diperintahkan untuk berpakaian seperti perempuan Muslimah merdeka, sudah pasti ia akan menyusahkan dan membebankan hamba perempuan tersebut menyelesaikan urusan pekerjaannya.

    Sementara itu, Ibnu Hazm di dalam Al-Muhalla’ berpendapat bahawa batas aurat bagi perempuan merdeka dan perempuan hamba adalah sama dalam apa keadaan sekalipun kerana tidak ada dalil dari Al-Quran mahupun Hadith yang menyatakan perbezaan di antara batas aurat perempuan merdeka dan perempuan hamba.

    Makna aurat berbeza berdasar tafsiran

    Secara umumnya, sekiranya kita meneliti teks-teks klasik fiqh yang membahaskan tentang persoalan aurat kita pasti akan berjumpa dengan perbahasan-perbahasan tentang perbezaan aurat di antara perempuan merdeka dengan perempuan hamba.

    Dan perbezaan ini sangat ketara kerana para ulama menyatakan bahawa alasan perbezaan tersebut rata-ratanya adalah untuk memudahkan, keperluan dan mengelakkan kesulitan bagi perempuan hamba tersebut melakukan urusan kerja yang diarahkan oleh tuannya.

    Ibnu Hajar Al-Asqalani di dalam Fath-Al Bari menyatakan bahawa pakaian (Al-Malabis) adalah berbeza-beza di setiap negeri.

    Sekiranya kita meneliti dari sudut sejarah dan latar sosial masyarakat arab pada masa tersebut pakaian-pakaian seperti khimar dan jalabib sebagaimana yang disebutkan di dalam Surah Al Nuur ayat 31 merupakan pakaian kebudayaan bagi masyarakat Arab pada ketika itu.

    Muhammad Tahir Ibn Ashoor di dalam bukunya Maqasid Syariah Al Islamiyah menyatakan bahawa adat kebiasaan sesuatu kaum tidak boleh dipaksakan ke atas kaum lain atas nama agama.

    Beliau sewaktu menghuraikan Surah Al-Ahzab ayat 59 yang memerintahkan agar isteri-isteri Nabi dan perempuan beriman untuk melabuhkan jilbab mereka sehingga menutupi dada menyatakan – “Ini adalah ajaran yang mempertimbangkan adat orang-orang Arab sehingga bangsa-bangsa lain yang tidak menggunakan jilbab tidak diwajibkan atas syariat ini”.

    Makna “aurat” bergantung kepada budaya masyarakat dan zaman

    Tafsiran aurat sendiri begitu subjektif dan berbeza-beza di antara ulama’ walaupun objektif utama penutupan aurat adalah untuk mengelakkan berlakunya fitnah seksual (Khauf Al-Fitnah) terhadap perempuan.

    Pemahaman terhadap batas anggota tubuh yang membawa keaiban juga berbeza dari setiap tempat dan banyak dipengaruhi oleh keadaan budaya masyarakat setempat.

    Perempuan, sebagaimana lelaki, mempunyai hak yang sama ke atas tubuh badannya dan berhak diberikan kebebasan untuk memilih pakaian yang menurut pandangannya adalah sesuai dan mampu mengelakkan fitnah.

    Sekiranya dia memilih untuk bertudung, itu baik untuknya dan sekiranya dia memilih untuk tidak bertudung itu juga baik untuknya. Yang lebih penting ialah mereka memakai pakaian yang terhormat.

     

    Source: www.projekdialog.com

  • MIC Wanita Chief: Tudung Ban Unnecessary

    MIC Wanita Chief: Tudung Ban Unnecessary

    A woman has a right to wear what she wants and a person’s attire should not restrict her from being employed.

    In stating so, MIC Wanita chief Mohana Muniandy said denying a woman a job due to her choice of attire was “really bad”, especially when it was worn for religious purposes.

    “Malaysia is moving forward with moderation and this requirement is extremist and unnecessary. It is just not logical,” she told The Rakyat Post when contacted.

    Mohana was commenting on a tweet by actor Datuk Rosyam Nor who alleged that a toy store had allegedly requested his daughter to remove her tudung as a requirement for employment, last Thursday.

    She also wondered why a toy store would enforce such a requirement when tudung-clad women are a normal sight in Malaysia.

    Yesterday, Puteri Umno chief Datuk Mas Ermieyati Samsudin slammed the toy shop, arguing that the action was against the rights of Muslims.

    She also said that it showed that there were still people who were narrow-minded about tudung-clad women and demanded that the outlet apologise.

    Meanwhile, the management of the toy shop, Hamleys Malaysia, had posted an official apology to the public on Facebook yesterday regarding the matter.

    The statement added that it did not have such a policy and welcomed any applicant, regardless of race and religion.

     

    Source: www.therakyatpost.com