Category: Sosial

  • Bulan Dzulhijjah – Sunnah Yang Telah Hilang

    Bulan Dzulhijjah – Sunnah Yang Telah Hilang

    # Bulan Dzulhijjah – Sunnah Yang Telah Hilang

    Sayangnya, sekali lagi khutbah Jumaat memfokuskan kepada hal2 kepentingan pemerintah, bukan kepada hal2 kepentingan syari’at agama pada saat ini, yakni bulan Dzulhijjah. Ingatkah kita beberapa bulan yang lalu, betapa suasana semarak ibadah masyarakat pada bulan Ramadhan? Masjid yang biasanya sepi, tiba2 penuh dengan jemaah. Bahkan orang yang setahun tidak pernah pergi masjid, tiba2 bersemangat ke shaf hadapan. Kebanyakan umat Islam telah sadar kebesaran bulan Ramadhan sehingga ia menjadi bulan yang dikenali dengan semarak ibadah kaum muslimin. Walhamdulillah… Sayangnya, suasana sedemikian hanya berlaku pada bulan Ramadhan. Telah lupakah kita tentang kebesaran bulan Dzulhijjah?

    ☆ Bulan Dzulhijjah – Kebesaran Yang Dilupakan

    Masyarakat kita belum banyak yang menyadari bahawa Dzulhijjah termasuk bulan yang istimewa. Padahal banyak dalil yang menunjukkan bahawa di bulan Dzulhijjah, amal soleh dilipat-gandakan. Sebagaimana pahala yang dijanjikan ketika Ramadhan.

    Dari Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
    شَهْرَانِ لاَ يَنْقُصَانِ، شَهْرَا عِيدٍ: رَمَضَانُ، وَذُو الحَجَّةِ
    ”Ada dua bulan yang pahala amalnya tidak akan berkurang. Keduanya dua bulan hari raya: bulan Ramadhan dan bulan Dzulhijjah.” (HR. Bukhari 1912 dan Muslim 1089).

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggandingkan bulan Dzulhijjah dengan Ramadhan. Sebagai motivasi beliau menyebutkan bahawa pahala amal di dua bulan ini tidak berkurang.

    Waktu yang paling mulia ketika Dzulhijjah adalah 10 hari pertama. Di surah al-Fajr, Allah berfirman:
    وَ الْفَجْرِ * وَلَيَالٍ عَشْرٍ
    Demi fajar, dan demi malam yang sepuluh. (QS. Al Fajr: 1 – 2)

    Imam Ibn Rajab menjelaskan, malam yang sepuluh adalah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Inilah tafsir yang benar dan tafsir yang dipilih kebanyakan ahli tafsir dari kalangan sahabat dan ulama setelahnya. Dan tafsir inilah yang sesuai dengan riwayat dari Ibn Abbas radhiallahu ‘anhuma…” (Lathaiful Ma’arif, hal. 469)

    Allah bersumpah dengan menyebut sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Yang ini menunjukkan keutamaan sepuluh hari tersebut. Kerana semua makhluk yang Allah jadikan sebagai sumpah, adalah makhluk istimewa, yang menjadi bukti kebesaran dan keagungan Allah.

    Kerana itulah, amalan yang dilakukan selama 10 hari pertama Dzulhijjah menjadi amal yang sangat dicintai Allah. Melebihi amal soleh yang dilakukan di luar batas waktu itu.

    Dari Ibn Abbas radhiallahu ‘anhu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ. يَعْنِى أَيَّامَ الْعَشْرِ. قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ « وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ

    “Tidak ada hari dimana suatu amal salih lebih dicintai Allah melebihi amal salih yang dilakukan di sepuluh hari ini (yakni sepuluh hari pertama Dzulhijjah).” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, termasuk lebih utama dari jihad fi sabilillah? Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Termasuk lebih utama dibanding jihad fi sabilillah. Kecuali orang yang keluar dengan jiwa dan hartanya (ke medan jihad), dan tidak ada satupun yang kembali (yakni mati dan hartanya diambil musuh).” (HR. Ahmad 1968, Bukhari 969, dan Turmudzi 757)

    Dalam riwayat yang lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
    “Tidak ada amalan yang lebih suci di sisi Allah dan tidak ada yang lebih besar pahalanya dari pada kebaikan yang dia kerjakan pada sepuluh hari al-Adha.” (HR. Ad-Daruquthni, dan dihasankan oleh al-Albani)

    Al-Hafidz Ibn Rajab mengatakan, Hadis ini menunjukkan bahawa beramal pada sepuluh hari bulan Dzulhijjah lebih dicintai di sisi Allah dari pada beramal pada hari-hari yang lain, tanpa pengecualian. Sementara jika suatu amal itu lebih dicintai Allah, artinya amal itu lebih utama di sisiNya. (Lathaiful Ma’arif, hal. 456). Diceritakan oleh Al Mundziri dalam At Targhib wa At Tarhib (2/150) bahawa Sa’id bin Jubair (murid senior Ibn Abbas), ketika memasuki tanggal satu Dzulhijjah, beliau sangat bersungguh-sungguh dalam beribadah, sampai hampir tidak mampu melakukannya. Semoga jabatan agama, persatuan ulama’ dan para asatizah dapat berusaha membangun kesadaran masyarakat tentang kebesarannya bulan Dzulhijjah.

     

    Source: Islamiq SG

  • Osman Sulaiman And The State Of Affairs In Singapore

    Osman Sulaiman And The State Of Affairs In Singapore

    1. We were promised Swiss standard of living. Instead we got the most expensive city to live in.

    2. We were promised equality, instead we thrive in elitism.

    3. We were told that our nation is built on meritocracy, instead we are ranked 5th in Crony Capitalism Index.

    4. We pledged to build a democratic society but instead we got an autocratic government.

    5. We spent billions of taxpayers money to increase productivity, but instead these measures are counter productive when we flood our workforce with cheap foreign labour.

    6. We planned for a long term sustainable economic growth, but instead history has shown that our economic growth model is nothing meaningful except to increase our population digits by granting new citizens.

    7. It is our objective to reach the world cup by 2010, but instead we are 7 years late and our football association is in the doldrums.

    8. Our gov pledged no one will be left behind but today, many are slipping through the cracks with reportedly high numbers of citizens seeking assistance.

    9. We were told that our CPF can be withdrawn at age 55 with a minimum sum of $30,000. Throughout the years, the goal post has been shifted many times and today, the minimum sum stands at $161,000 at age 65.

    10. We pledged to transform our country for the better, but today, we keep electing the same leaders expecting a different result.

    Be the change you wish to see.

     

    Source: Osman Sulaiman

  • MFA Spokesman’s Comments In Response To Media Queries For An Update On The Two Singaporeans Arrested In Abu Dhabi, 25 August 2017

    MFA Spokesman’s Comments In Response To Media Queries For An Update On The Two Singaporeans Arrested In Abu Dhabi, 25 August 2017

    The MFA spokesman said:

    “Officials from the Singapore Embassy in Abu Dhabi met both Singaporeans on 23 August 2017 to ensure their continued well-being while in custody.  The Embassy’s representatives also attended the bail hearing on 24 August 2017.  This was the Embassy’s fourth meeting with the two Singaporeans since their arrest.  The first meeting took place on the same day the Embassy was notified of their case on 10 August 2017.

    The Embassy will continue to provide the necessary consular assistance and has been closely monitoring developments to ensure that due process is accorded to them.  MFA is also in close contact with the families of the two Singaporeans.

    Singaporeans are also reminded that they should respect and abide by the local laws when they travel overseas.

     

    MINISTRY OF FOREIGN AFFAIRS

    SINGAPORE 

    25 AUGUST 2017

  • Town Council’s Default Bill Of $1688

    Town Council’s Default Bill Of $1688

    It’s really crazy to live in Singapore if you’re poor.

    ***

    Was shocked to chance upon this town council’s default bill of $1688 of which the penalty fee is $249 and legal charges a massive $721. The total penalty and legal fee is $970 – much more than the actual town council owed fee of $718 dating from Aug 2015 to Apr 2017. One can’t imagine the government allows a needy Singaporean family to be fleeced off by so much legal cost when their last GE’s slogan is “For you, with you…”?

    The family stays in a 3-room flat and suffers from under-employment. To avoid jail sentences for owed town council bill, the family has been slowly paying them off whenever they have the money. They also have to show the receipts to the town council whenever they have made payment. We also know of some who have to go to jail because of accumulated town council default – after the jail sentence they still have to pay their bill! Its a shame to see so many of our poor vulnerable families living like this – struggling to pay bills of all kinds while living in the world’s costliest city (for expats only as claimed by the government).

    The proposed sugar tax will simply add on to their living cost and deepen their misery. The recent 30% hike in water cost, existing 7% GST and a whole slew of increases for basic living usage imposed early this year will simply drive one to depression by just looking at the bills. Many in fact have avoided opening the bills every month and just throw them in some forgotten corner hoping that they will just evaporate into the thin air magically. Its no wonder many of us can’t avoid to go cashless the right way as we are already very cash-less before we hit the month end.

     

    Source: Gilbert Goh

  • Kenapa Kita Dilarang Duduk Atas Kubur? Ini Alasannya.

    Kenapa Kita Dilarang Duduk Atas Kubur? Ini Alasannya.

    Kubur menjadi tempat tinggal terakhir bagi manusia yang meninggal dunia. Di sana, jenazah akan memasuki fasa alam barzah dan menunggu hari kiamat tiba. Tidak ada yang tahu, bagaimana keadaan mayat saat berada di sana.Semuanya menjadi rahsia Allah. Pada waktu tertentu, biasanya keluarga akan mengunjungi kubur untuk menziarahi ahli keluarga yang telah meninggal dunia. Hal ini dilakukan untuk mendoakan atau sekadar membersihkan kawasan kubur saja. Namun dalam pelaksanaan aktiviti itu manusia sering kali melakukan hal yang salah atau dilarang.

    Salah satunya adalah menduduki atau melangkahi kuburan yang bukan milik keluarganya. Ternyata hal ini sangat dilarang oleh Rasulullah. Larangan duduk di atas kubur karena seperti itu termasuk menghinakan kubur. Dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    لَأَنْ يَجْلِسَ أَحَدُكُمْ عَلَى جَمْرَةٍ فَتُحْرِقَ ثِيَابَهُ فَتَخْلُصَ إِلَى جِلْدِهِ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَجْلِسَ عَلَى قَبْرٍ

    “Seandainya seseorang duduk di atas bara api sehingga membakar pakaiannya sampai kulitnya, itu lebih baik baginya dibandingkan duduk di atas kubur.” (H.R Muslim, no. 1612). Hadits ini menunjukkan bahwa duduk di atas kubur termasuk dosa besar karena ancaman yang keras seperti ini.

    Makhluk yang bernyawa pasti akan mengalami kematian. Tidak perlukan waktu lama, jasad tanpa nyawa ini harus dimakamkan di tempat terakhir mereka di kubur. Tidak ada lagi teman di sana. Sahabat sejati pergi, bahkan keluarga pun tidak mahu menemani. Bila waktu telah memanggil, maka teman sejati hanya tinggal amal. Berdasarkan pendapat majoriti Ulama, gambaran syurga dan neraka itu terjadi di barzakh, dan itu merupakan dalil penetapan adanya siksa kubur. Bagi mereka yang beriman dan bertakwa selama hidup, maka akan merasakan nikmat kubur. Namun jika sebaliknya yang dilakukan, maka mereka merasakan kubur seperti di neraka.

    Beruntung jika yang dirasakan oleh mayat ini adalah nikmat kubur. Namun begitu siksanya bagi mereka yang mendapatkan azab. Mereka merasakannya siang dalam malam. Seperti yang dijelaskan Allah dalam Alquran. Bagaimana laknatullah, Firaun disiksa oleh Allah pagi dan petang. “Maka Allah memeliharanya dari kejahatan tipu daya mereka, dan Fir’aun beserta kaumnya dikepung oleh azab yang amat buruk. Kepada mereka ditunjukkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya kiamat, (dikatakan kepada malaikat), ‘Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras.’” (QS. Al-Mu’min [40]: 45-46).

    Hal inilah yang mungkin juga dialami oleh saudara kita sesama muslim yang telah meninggal. Lalu kita dengan mudahnya ketika datang ke kubur mendudukinya atau bahkan melangkahinya. Rasulullah SAW bersabda yang artinya: “Janganlah kalian duduk di atas kubur dan jangan solat menghadap kepadanya,” (Diriwayatkan Muslim).

    Rasulullah juga bersabda, “Seandainya salah seorang dari kalian duduk di atas bara api kemudian bara api tersebut membakar pakaiannya dan mengenai kulitnya, itu lebih baik baginya daripada duduk di atas kuburan,” (Diriwayatkan Muslim). Berdasarkan hadist di atas, majoriti ulama menyatakan bahawa hukum duduk di atas kuburan adalah makruh. Tindakan ini dianggap sebagai sikap tidak hormat kepada si mayat. Sementara itu Imam Abu Zakariya Muhyiddin Yahya Ibnu Syaraf Al-Nawawi menegaskan bahawa tidak hanya duduk diatas kubur muslim yang dihukumkan makruh begitu juga memijaknya kecuali kerana adanya keperluan yang mendesak (hajat).

    Misalnya kerana tidak boleh sampai pada kubur yang dituju semasa melaksanakan ziarah kubur kecuali dengan melalui dan memijak kubur lain, maka hukumnya adalah boleh (tidak makruh) demikian juga duduk diatas kubur yang dianggap mayat yang ada didalam kuburan tersebut telah hancur dan tidak tersisa lagi, maka hukum duduk diatas kuburan yang semacam itu adalah boleh (tidak makruh). Imam Nawawi juga menyatakan bahwa bermalam dikubur adalah makruh kerana hal itu (bermalam dikuburan) dapat menyebabkan kekacauan. Imam Syihabuddin Ahmad Ibnu Ahmad Ibnu Salamah Al-Qulyubi juga menambahkan bahawa hukum buang air besar dan buang air kecil diatas kuburan orang muslim adalah haram. Saudara seiman, kita tidak pernah tahu apa yang sedang terjadi didalam kubur si mayat yang kita duduki atau pijak itu. Kita hanya tahu, bahawa kubur ini seperti rumah, menjadi tempat tinggal jenazah yang sudah wafat.

    Wallahua’lam

     

    Source: VM

deneme bonusu