Tag: Dr Ng Eng Hen

  • Entering NS Soon? From End-2017, You Can Indicate Preferred Vocation

    Entering NS Soon? From End-2017, You Can Indicate Preferred Vocation

    For men entering National Service (NS) from end-2017, they may indicate which vocations they are interested in joining and this will be factored in after they have been assigned to the Singapore Armed Forces (SAF), Singapore Police Force (SPF) or Singapore Civil Defence Force (SCDF), Defence Minister Ng Eng Hen has revealed.

    The move aims to encourage full-time national servicemen to take ownership of their roles and responsibilities, Dr Ng said in an interview ahead of SAF Day on Jul 1.

    Currently, pre-enlistees are assigned to their vocations based on the operational needs of the SAF and Home Team agencies. However, pre-enlistees may begin to indicate which vocations they are interested in from the end of this year, if their enlistment date is from end-2017.

    Their interests will be considered after they have been assigned to SAF, SPF or SCDF, and information on more than 30 vocations available will be made available on the Central Manpower Base (CMPB) website from the third quarter this year.

    “Obviously, operational requirements will come first. But if their vocations, their aptitudes, match their choices, we’ll try to give as many as possible – with the caveat that the entirety of that unit, missions and capabilities must not be compromised,” said Dr Ng.

     

    Source: www.channelnewsasia.com

  • Indonesia kutuk Singapura Sebagai Negeri Tak Tahu Diri

    GanyangSingapura

    Jakarta – “Der mensch ist, war es iszt’” kata pepatah Jerman. Sikap manusia sepadan dengan caranya mencari makan. Berkaca kepada Singapura, pepatah itu benar adanya.

    Dengarlah ancaman yang dikoarkan Menteri Pertahanan Singapura, Ng Eng Hen. Di hadapan parlemen Singapura yang langsung dilansir stasiun berita Channel News Asia, pada Selasa (18/2/2014) Ng melarang KRI Usman Harun melintasi perairan negeri itu. Tidak hanya itu, angkatan bersenjata Singapura (SAF) juga dilarang berlatih militer dengan kapal perang milik Indonesia itu.

    “Kapal itu akan membawa kembali memori menyakitkan dan kelam bagi keluarga korban,” kata Ng, menjadikannya alasan.

    Tak cukup hanya mengancam, Ng juga menyindir sikap Indonesia yang memberi nama kapal itu dengan asma dua prajurit Marinir yang sempat memporandakan Singapura di masa perjuangan Indonesia untuk mengganyang Malaysia itu. “…ketika RI dilanda bencana tsunami tahun 2004 di Aceh, SAF merupakan tim pertama yang memberikan bantuan kepada Indonesia,” kata Ng. Seolah dengan kalimat itu Ng menyatakan sikap tahu diri dan tahu membalas budi adalah watak yang alpa dari bangsa Indonesia.

    Ng lupa, bangsanya sungguh lebih buruk dari apa yang ia sindirkan. Bertahun-tahun Negeri Singa itu menjadi surga para koruptor dan penjahat penggangsir dana rakyat Indonesia yang lari ke sana. Bertahun-tahun Singapura berkelit dan tak mau menyerahkan para pencoleng itu kepada aparat hukum Indonesia dengan alasan tidak adanya perjanjian ekstradisi di antara kedua negara. Bertahun-tahun pula Singapura menikmati tetesan dana haram itu untuk menggemukkan kantong pemasukan negaranya. Manakala pada 2007 negara itu bersetuju dalam perjanjian ekstradisi, hingga kini negara itu belum juga meratifikasi.

    Singapura

    Jangan lupa, berdasarkan tulisan Michael Backman di The Age, pada 2006 saja dana-dana kotor dari Indonesia itu mencapai proporsi 22 persen perekonomian Singapura.

    Lalu soal tak tahu diri, Ng pun sebaiknya berkata sambil berkaca. Agar perkataan itu berdengung keras di telinganya sendiri. Bukan Indonesia yang sering melanggar batas wilayah. Justru negeri upil itu yang tercatat sering masuk ranah tetangga tanpa salam sebelumnya.

    Belum lagi soal upaya negeri itu terus memperluas wilayah dengan modal pasir-pasir laut yang dikeruk dari perairan Indonesia. Padahal, penggalian pasir itu sendiri merusak lingkungan alam Indonesia. Kementerian Luar Negeri pada 2006 menyatakan, reklamasi yang dilakukan pemerintah Singapura sudah menyebabkan daratan Singapura maju sejauh 12 kilometer dari original base line perjanjian perbatasan Indonesia-Singapura pada 1973. Tentu saja, itu memengaruhi wilayah Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia.

    Terakhir, pada 7 Februari lalu dua pesawat tempur Singapura– diperkirakan jenis F-16, melintas langit Batam. Pesawat berwarna abu-abu kehitaman itu terbang rendah di langit Sekupang, Batam, dengan suara menyakitkan telinga warga.

    Lihatlah, seolah berdiri di ujung jurang, kepada dirinya sendiri kata-kata Ng bergaung. Singapura, benar-benar mengingatkan kita akan figur serakah, pongah namun tak punya marwah. Der mensch ist, war es iszt.

    Namun jangan lupa, ada teladan dalam kata-kata Ng. Ng seorang yang sangat nasionalis. Sayang, nasionalisme Ng adalah nasionalisme sempit yang membuat hati penyair Rabindranath Tagore kebat-kebit. “…bangsa-bangsa yang saling ketakutan, intai mengintai seperti hewan buas di malam hari,” kata Tagore, saat ia mengunjungi Jepang yang tengah memnyiapkan perang di 1916.

    Sayangnya, nasionalisme itulah yang kini nyaris padam dalam kehidupan bernegara kita. Mungkin juga dari dada para pejabat kita; paling tidak melihat ketidakberanian akut yang menghantui mereka. Padahal, seperti kata pendiri bangsa, Mohamad Hatta, jatuh bangunnya negara ini, sangat tergantung dari bangsa ini sendiri. “Makin pudar persatuan dan kepedulian, Indonesia hanyalah sekedar nama dan gambar seuntaian pulau di peta.”

    Darmawan Sepriyossa

    Sumber: INILAHCOM

  • Orang Malaysia bengang tentera SG berlatih di Brunei

    Malay_sergeant_of_the_Singapore_Army_and_his_father_-_20120418

    brunei-military-farewell

    images

    Negara Singapura tiada hutan belantara, jika tiada hutan belantara maka tidak perlu sangat lah melatih tentera nya didalam hutan. Tambahan apa yang patut dibuat ada lah melatih tentera nya mempertahan kota Singa itu pada urban warfare sahaja kerana mempertahan kan kota Singapura dari serangan musuh.

    Tetapi semua nya itu jika mereka mahu terhad kan kepada mempertahan kan diri.

    Bagaimana pula jika ada niat  lebih dari itu? Jika mereka mahu masuk kedalam hutan dan berperang gerila dalam hutan, hutan mana pula sasaran mereka?

    Kebetulan negara berhutan terletak tidak jauh dari pulau Singapura, hanya beberapa kilometer sahaja dari pulau Singa itu.Tapi apa pun kita berperasangka baik.

    Singapura menghantar tentera nya berlatih mengenali hutan dan berperang didalam nya dengan menguna kan kemudahan hutan negara Brunei Darussalam.

    Selain mengikat mata wang (pegged) bersama Negara Brunei , Singapura juga dibenarkan berlatih perang dalam hutan dinegara Brunei Darussalam.

    Bukan sahaja tentera Singapura dilatih cara survival didalam hutan malah juga taktikal dan tatacara perang secara total.

    ‘Singapore and Brunei share a strong and long-standing defence relationship. In addition to regular training which SAF troops conduct in Brunei, both defence establishments conduct a wide range of bilateral exercises and professional exchanges which have enhanced the professionalism and strengthened the ties between the two armed forces.’

    Mungkin menyedari bukan sahaja pertahanan yang kuat mesti ada pada kota kecil ini, maka mereka go one step further dengan memperolehi kemahiran berperang dalam hutan. Dan kebetulan keakraban dengan negara Brunei sudah terjalin maka peluang menggunakan hutan nya sebagai kawasan latihan tentera perlu diambil.

    Kerana kurang kemahiran dalam hutan maka latihan diada kan secara serious, malah sehingga beberapa kali tentera nya hilang dan sesat didalam hutan Brunei itu.

    Latihan boleh di kata kan serious dan penuh kesungguhan sehingga melibat kan nyawa tentera nya.

    “Lance Corporal (LCpl) Muhammad Fahrurrazi Salim was the coxswain in a convoy of four boats used to support the water crossing segment of the jungle training exercise at Sungai Batu Apoi. In a statement released on their website, Singapore’s Defence Ministry said the 20-year-old was last seen wearing a life jacket on his boat at 7.55am Sunday morning. However at 8am, his boat was noticed not to have followed the convoy”

    Bagi negara kita Malaysia , kita hanya mahu berfikir jika hanya mahu mempertahan kan negara sendiri, Singapura sudah pun kuat dan mantap kerana kapal perang Amerika yang berada di sekitar Laut China Selatan juga ada dan akan segera berada di sisi Singapura apabbila sahaja mereka di perlukan.

    Tetapi berperang dalam hutan?

    Itu harus kita waspada kerana Singapura tidak ada hutan yang besar, budak pengakap pun boleh survive dalam hutan mereka, tapi dengan kesungguhan mereka menghantar tentera nya di Brunei untuk berlatih perang, maka Malaysia harus berjaga jaga dengan tindakan “behind enemy line” dari pihak jiran kita.

    Banyak fakta nyata dan mudah di perolehi berkenaan tindak tanduk ketenteraan Singapura yang ada di alam maya.

    Singapore also maintains a training establishment in Brunei, known as the Jalan Aman Camp and operates support helicopters mainly to transport the soldiers to Lakiun Camp in Temburong for Jungle Training. The other Singapore military establishment in Brunei is the Lakiun Camp in Temburong. This provides jungle training for the Singapore Armed Forces in the interior of Temburong.

    Kerja kita tidak lebih selain memerhatikan sahaja.

    Malaysian Blogger The Chulan

    Source: http://bit.ly/1beCU1F